|
Judul:
Does My Head Look Big in This?
(Memangnya Kenapa Kalau Aku Pakai
Jilbab?)
Penulis: Randa Abdel-Fattah Penerjemah: Alexandra Kirana Penerbit: Gramedia Jumlah halaman: 348 halaman |
Tidak ada hal
sepele dalam dunia seorang remaja.
Mulai dari masalah
jerawat yang dengan sangat tepatnya tumbuh di lubang hidung bagian kanan,
perang geng dengan geng cewek-yang merasa-diri-mereka-makhluk-terkeren-sejagat,
dan mati-matian jaga gengsi agar tak nampak naksir cowok dari tim debat yang
juga jago main basket.
Kombinasikan itu
semua dengan kehidupan seorang remaja perempuan keturunan Palestina Muslim di
Australia, maka Anda akan berkenalan dengan Amal Abdel-Hakim, tokoh sentral
dalam buku ini.
Pada suatu sore,
gadis usia tujuh belas tahun ini tengah power-walking di atas treadmill di
rumahnya sambil menonton ulang tayangan Friends, saat pencerahan mengetuk
kepalanya seketika: ia telah siap mengenakan jilbab.
Daftar Orang yang
Oke & Nggak Oke
Keputusan Amal
tentu saja memancing banyak reaksi. Mulai dari kedua orangtua, sepupu, guru,
kepala sekolah, teman-teman sekolah Amal di McCleans Grammar School, tetangga
samping rumah Amal, sampai pelayan di restoran langganan Amal.
Pada awalnya,
banyak yang mengira Amal dipaksa oleh orangtuanya. Kepala sekolah Amal, Ms.
Walsh, bahkan sempat mengganggap keputusan Amal sebagai upaya pengabaian atas
kebijakan seragam sekolah di McCleans.
Tentu saja, ini
bukannya tidak diduga sama sekali oleh Amal. Dalam daftar orang-orang yang akan
oke dan nggak oke dengan keputusannya berjilbab (hal 23), Ms. Walsh memang
berada di nomor sembilan dari daftar orang yang nggak oke.
Sementara daftar
orang yang oke beberapa diantaranya adalah: Simone dan Eileen—sahabat Amal di
McCleans, Leila dan Yasmeen—sahabat Amal dari sekolahnya dulu, sekolah muslim
Hidaya, Samantha sepupunya, dan Mr Pearse—guru favorit Amal di McCleans yang
kemudian juga menyediakan ruang kelas kosong di sekolah agar Amal bisa shalat
saat istirahat.
Isu Sosial dalam
Humor
“It’s the sense of
touch. In any real city, you walk, you know? You brush past people, people bump
into you. In L.A., nobody touches you. We’re always behind this metal and
glass. I think we miss that touch so much, that we crash into each other, just
so we can feel something.”
Itulah ujaran tokoh
Graham dalam film Crash, suatu film produksi tahun 2004 yang mengangkat tema
ras dan stereotipe di Los Angeles. Tema yang juga diangkat Randa dalam novel
ini. Ditulis tahun 2005, Randa menampilkan tokoh Eileen yang kerap mendapat
perlakuan rasis dari masyarakat karena ia keturunan Jepang.
Begitu pula dengan
sahabat Amal lainnya, Leila. Meski Leila selalu meraih nilai A+ dan
bercita-cita menjadi pengacara, namun ia harus berbenturan dengan ibunya
sendiri, Gulchin. Tak bisa baca tulis dan menikah di usia muda, Gulchin
berusaha menjodohkan Leila dengan pria manapun atas dasar pemahaman: perempuan
seharusnya tinggal di rumah mengurus anak dan suami, ketimbang sekolah
tinggi-tinggi.
Isu sosial lainnya
hadir melalui tokoh Simone. Memiliki ukuran tubuh 14 diantara teman-teman
bertubuh ramping, Simone berupaya keras untuk menjadi cantik. Ia mati-matian
berdiet—bahkan merokok, untuk menekan nafsu makannya.
Sementara sejumlah
isu lain seperti tragedi 9/11, budaya sunat perempuan, peristiwa pemboman di
Bali yang menewaskan sejumlah warga Australia juga tak ketinggalan mewarnai
buku ini. Tersaji dalam bentuk witty banter antar Amal dengan tokoh lain, tak
jarang Randa mengemas isu-isu serius ini dengan humor khas remaja.
Misalnya dialog di
halaman 147. Berawal dari ujaran Adam—cowok yang ditaksir Amal, tentang
sedikitnya orang muslim di Australia. Dengan sarkastik, Amal berkomentar “Ya,
ya, aku tahu itu. Orang Muslim pertama yang pernah ditemuinya! Itu membuatku
terdengar kayak alien. Oh itu pertemuan pertamaku dengan orang Muslim! Wow! Aku
bahkan membawa kameraku. Nggak sabar kepingin menelepon National Museum. Aku
yakin mereka bakal tertarik membuat pameran!”
Atau saat Tia—musuh
Amal di sekolah, mengejek jilbab Amal di halaman 83. “Aku benar-benar nggak
tahu apa yang akan kulakukan tanpa rambut panjangku! Maksudku, apa bagusnya sih
wanita tanpa rambut? Kau harus punya wajah model untuk bisa bertahan menutupi
rambutmu.”
Saat itu, dengan
cerdas Amal membalas “Aku benar-benar nggak tahu apa yang bakal kulakukan tanpa
otak, Simone! Maksudku, apa gunanya seseorang tanpa otak?”
Unsur humor
bukannya diselipkan Randa tanpa maksud tertentu. Dalam wawancara dengan Justine
Larbalistier (http://justinelarbalestier.com/blog/2010/02/16/guest-post-randa-abdel-fattah-on-writing-identity/),
Randa menjelaskan “Using humour to tell Amal’s story was strategic. When I
wrote Does My Head Look Big In This? I was acutely conscious that given the
breadth of stereotypes and misconceptions I wanted to confront, there was a
real risk that I could sound boringly preachy. I therefore found that Amal’s
self-deprecating, humorous outlook on life was the best way to humanise ‘the
Other’ and avoid preaching to my readers. Humour enabled me to confront
people’s misunderstanding of Islam and Muslims without plaguing my characters
with a victim complex (oh, plus the fact it’s rare to think of ‘Muslim’ and
‘humour’).”
Lebih jauh, dalam
wawancara dengan http://abc.net.au (http://www.abc.net.au/rollercoaster/therap/interviews/s1451590.htm)
Randa yang juga Muslim keturunan Palestina-Mesir-Australia ini bertutur tentang
masa remajanya saat orang-orang meludahinya dan meneriakinya teroris.
Menanggapi itu, Randa berujar “Really the only way you can live with people
treating you like a stereotype or people judging you is to have a sense of
humour about it.”
Representasi Islam
dari Angle yang Berbeda
Dengan tokoh gadis
muslim yang cerdas dan kritis, Does My Head Look Big in This? adalah oase diantara
banjir buku bergenre teenlit. Lagi-lagi, ini juga bukannya dilakukan Randa
tanpa maksud. Pada Justine Larbalistier, Randa berujar “I mean, how many times
do you trawl through the shelves of bookstores only to see that Muslim women
only ever feature as protagonists or characters in crude orientalist-type
narratives in which women achieve ‘liberation’ because they have ‘escaped’
Islam or are victims of honour killings, domestic violence and oppression
because of Islam?”
Dan dalam buku yang
memenangi Australian Book Industry Awards 2006 – Australian Book of the
Year for Older Children ini, Randa telah memulai misinya untuk
merepresentasikan Islam dari angle yang berbeda. “So far I’ve been navigating
identity struggles, family politics, community and relationships. Although
works of fiction, I’ve drawn on my own religious identity and ethnic heritage,
not because I seek to add another title to the ‘exotic Islamic/Middle Eastern’
bookshelf, but because I believe it is high time contemporary fiction recognised
Muslims as human beings and dispensed with the one-dimensional Muslim
caricature. For me, it’s about taking ownership over how my faith is
represented and narrated.” [*]
*) Retnadi
Nur’aini, IRT & pengelola toko buku online halamanmoeka.com
Sumber:
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar