|
Judul
buku: Drunken Mama (Kumpulan Kisah Tidak Teladan)
Penulis: Pidi Baiq Terbit: Februari 2009 Penerbit: Dar Mizan ISBN: 978-979-752-952-9 Halaman: 216 |
Untuk ketahuilah
bersama alangkah hidup ini menakjubkan, sungguh menakjubkan. Sayang sekali
kalau hidup bagimu hanya sekadar untuk menghirup oksigen. (Pidi Baiq, Drunken
Mama; hlm. 116-117)
KONON, kehidupan
ialah pusaran tanpa titik henti. Mati bukanlah akhir dari kehidupan manusia.
Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat doktrin yang termaktub dalam ajaran
agama-agama di dunia yang semuanya yakin akan adanya kehidupan setelah kematian
menyambangi manusia. Dus, tidaklah aneh jika manusia senantiasa mencari jawaban
atas pelbagai fenomena yang melingkupinya setiap hari, seumur hidupnya.
Kiranya, hanya ada
satu kegiatan yang membuat manusia tampak sebagai “benar-benar manusia”, yakni
menafsir kehidupan. Kegiatan tersebut menunjukkan manusia sungguh-sungguh
memiliki akal–entitas yang membedakan manusia dengan hewan.
Akal yang selalu
digunakan untuk menafsir kehidupan niscaya akan membuat manusia tak terperosok
lubang hitam banalitas kebudayaan. Namun, akal yang digunakan untuk menafsir
kehidupan haruslah bersifat bebas, lentur, dan liar. Sebab, kehidupan
sehari-hari manusia telah disesaki segala hal yang serbakaku. Artinya, manusia
tak harus berkerut kening dan berpeluh badan ketika menafsir lembar demi lembar
dalam “buku kehidupan”.
Kegiatan menafsir
kehidupan ini sebenarnya pernah pula disebut sebagai sesuatu yang salah oleh
Karl Marx. Filsuf asal Jerman itu berkata, “Para filsuf hanya
menginterpretasikan dunia dalam pemikirannya, padahal bagaimanapun yang
terpenting ialah mengubahnya!” Untunglah, Pidi Baiq bukan seorang
filsuf–setidaknya ia tidak pernah mengaku sebagai filsuf, maka kita tetap laik
membaca buku ketiga dari Seri Drunken yang ditulisnya
Pidi seolah tiada
pernah merasa jengah menafsir fenomena yang melintas di hadapan matanya. Lebih
jauh, ia pun tampaknya belum merasa cukup mengembangkan imajinasi dalam
berperilaku yang oleh awam disebut sebagai ganjil dan aneh. Tetapi, Pidi hanya
ingin menghibur hati manusia yang sering tertimpa lara nan berat. Pidi, tidak
lebih, cuma ingin mengajak orang lain menafsir kehidupan dengan hati riang dan
perasaan yang gembira. Tentu saja, tujuannya ialah kehidupan yang bahagia.
Membaca seluruh
karya Pidi, sampai di Drunken Mama, saya memang harus tersentak dengan
pertanyaan yang muncul otomatis dalam hati. Benarkah semua cerita Pidi selama
ini sungguh-sungguh terjadi?
Kalau melihat
struktur dan efek penceritaan dalam kisah yang telah ditulis Pidi sebagai
catatan harian, pembaca akan merasakan kedahsyatan cerita-cerita tersebut. Kita
memang akan dibawa untuk memercayai bahwa seluruh kisah Pidi adalah nyata
adanya. Namun, lagi-lagi, kaidah umum memaksa pembaca untuk meyakinkan diri
dengan bertanya pada hatinya; “Sungguhkah ada manusia seperti Pidi ini?”
Kalau cerita-cerita
humor Pidi ialah suatu kebenaran, secara tidak sadar, ia telah meruntuhkan
kekhawatiran Karl Marx terhadap orang-orang yang sering menafsir kehidupan. Pidi
tak hanya menafsir kehidupan, tapi ia mengubahnya lewat perilaku yang humoris
dan kritis. Sementara itu, jika Pidi hanya sekadar berimajinasi dalam bentuk
tulisan–untuk tak menyebutnya berbohong–termasuk dalam 17 kisah di Drunken Mama
ini, tak seharusnya kita mencaci Pidi. Sebab, bagaimana mungkin memarahi orang
yang telah menghibur hati?
Anggap saja
cerita-cerita Pidi bagaikan tabung oksigen yang biasa diberikan kepada orang
yang pingsan. Membaca semua cerita Pidi memang ibarat menghirup oksigen yang membuat
kita segar untuk kembali menapaki gemunung persoalan dalam hidup ini. Bahkan
lebih dari itu, kisah-kisah humor yang ditulis Pidi seolah setia mengajak
pembaca untuk tak sekadar menjalani kehidupan yang kaku dalam rutinitas. Maka,
sekali lagi, sampai di Drunken Mama, Pidi Baiq seolah belum kehabisan energi
kreatifnya. Hingga tetaplah laik kalau karya paling anyar dari Pidi ini dibaca.
[*]
*) Denny
Ardiansyah, peneliti kebudayaan di SoSADem (Society of Sociological Analitic
for Democracy)
Sumber:
Lampung Pos, 19
April 2009
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar